HOT NEWS
Jam Pelayanan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surabaya, Senin - Jumat : 07.30 - 21.00, Sabtu : 08.00 - 16.00 di Gedung Siola lt. 1 | Untuk KTP-el yang sudah habis masa berlakunya, tidak perlu diperpanjang karena otomatis menjadi berlaku seumur hidup | Cetak Ulang KTP-el karena Perubahan Data, Rusak atau Hilang dilakukan di Kecamatan.
Home Berita Pemkot Bakal Kedodoran Hadapi Urbanisasi

Pemkot Bakal Kedodoran Hadapi Urbanisasi

Surel Cetak PDF

alt

SURABAYA - Pemerintah kota (Pemkot) Surabaya diprediksi bakal kedodoran dalam menghadapi urbanisasi pasca Lebaran. Pasalnya, Pemkot belum memiliki filter atau penyaringan masuknya penduduk luar kota ke Surabaya. Selain itu, sistem kependudukan di Indonesia tidak boleh membatasi perpindahan penduduk dari kota yang satu ke kota lain, termasuk Surabaya. “Jadi, meski Surabaya mengerahkan Rukun Tetangga dan Rukun Warga (RT/RW) sampai pada petugas di tingkat kelurahan pun Pemkot tetap bakal kesulitan menangkal urbanisasi. Ini karena sistem kependudukan di Indonesia tidak boleh melarang perpindahan penduduk dari kota yang satu ke kota lain,” ungkap Baktiono, Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Selasa (13/8).

Menurutnya, meski Pemkot meminta pihak RT/RW mengamati atau bahkan mencegah terjadi urbanisasi di wilayahnya, namun cara itu belum efektif. Bahkan, langkah seperti itu sudah dilakukan Pemkot sejak 10 tahun silam, tapi faktanya urbanisasi tetap ada.

Para kaum urban, lanjutnya, umumnya pencari kerja dan para mahasiswa di perguruan tinggi di Surabaya. Mereka para pencari kerja berangkat dari daerah asalnya, baik dari sejumlah kota di Jatim maupun dari daerah lain di luar Jatim. Saat di Surabaya mengadu nasib. Mereka ada yang berhasil dan ada pula yang tidak.

Mereka yang berhasil sudah tentu akan pindah penduduk dari daerah asalnya ke Surabaya dengan alasan pekerjaan. “Nah, apakah kaum urban yang seperti ini bisa dicegah oleh Pemkot, saya kira tidak. Dan saya yakin para pejabat di Pemkot sebagian besar juga bukan orang Surabaya asli,” ungkapnya.

Sedangkan para mahasiswa yang menempuh ilmu di perguruan tinggi di Surabaya juga demikian. Mereka juga akan sulit bila menerapkan ilmunya di daerah asalnya, sehingga mereka memilih mencari kerja di Surabaya dan menetap di Surabaya. “Apakah mereka bisa dicegah agar tidak menjadi penduduk Surabaya, saya kira tidak dan ini sudah menjadi sistem yang sulit diubah,” ujarnya.

Kecuali, kata dia, kalau di daerah asal para mahasiswa itu sudah tercipta lapangan pekerjaan yang pas dengan keilmuannya. Dengan demikian para mahasiswa ini bisa kembali ke desanya. Tapi, sebaliknya jika ilmu yang diperoleh di perguruan tingginya tidak bisa diterapkan di desa asal mahasiswa itu, maka dia akan menjadi susah untuk hidup di desanya. Akhirnya, dia memilih mengadu nasib di Surabaya.

Sementara itu, Pemkot Surabaya tetap akan mengantisipasi serbuan pendatang baru yang ingin mengadu nasib di Kota Pahlawan.  Guna mengantisipasi pembludakan itu, Pemkot mengajak semua pengurus RT dan RW untuk melakukan pendeteksian dini. Langkah itu dilakukan untuk mencegah terjadinya pengangguran baru.

“Kami melibatkan masyarakat melalui surat edaran ke RT dan RW, bahkan surat edaran sudah kami kirim sejak kemarin,” ujar Suharto Wardoyo Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispenduk) Capil Pemkot Surabaya.

Dalam surat edaran tersebut, lanjutnya, bagi warga yang mengetahui adanya pendatang yang utamanya diindikasi gelandang dan pengemis (gepeng), harus segera dilaporkan ke posko penanganan gepeng Pemkot Surabaya. Selanjutnya, Pemkot akan mengambil tindakan dengan memulangkan gepeng ke daerah asalnya.

Upaya tersebut, kata Suharto, didukung dengan peran Lurah dan Camat yang siap memonitor wilayah masing-masing. Selain itu, Pemkot juga menyiagakan petugas berpakaian preman di terminal dan stasiun. Tujuannya, untuk memantau kedatangan gepeng sejak di pintu-pintu masuk kota. Ia optimis berbagai langkah antisipasi tersebut mampu membendung serbuan gepeng yang hendak masuk Kota Surabaya.

“Dalam minggu ini Pemkot akan mengadakan operasi yutisi terutama KTP dan kartu penduduk musiman, tujuannya untuk memfilter laju pertumbuhan penduduk di Surabaya yang tidak memiliki keterangan identitas dan tujuan,” ungkapnya.

Sementara wilayah terpadat penduduk di Surabaya  di tahun 2013 dimiliki penduduk kecamatan Tambak Sari mencapai 245 ribu lebih jiwa dan yang kedua ada di kecamatan Sawahan yang mencapai 232 ribu jiwa lebih. Dan diprediksi usai Lebaran ini sekitar 25 ribu penduduk luar Surabaya akan datang ke Kota Pahlawan ini.pur

Sumber : surabayapost.co.id

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 16 Agustus 2013 14:41 )  

Sedang Online

Kami punya 1147 tamu online

Halaman Login

Untuk bisa berpartisipasi dalam suara warga atau polling, silahkan anda login terlebih dahulu. bila belum terdaftar silahkan register.